Morowali – Adzan Ashar baru saja selesai. Sajadah belum dilipat. Di Masjid Desa Lele, Kecamatan Bahodopi, Kamis (9/7), Babinsa Koramil 1311-09/Bahodopi Sertu Muh. Jufri tidak langsung pulang. Ia duduk. Bersalaman. Ngobrol.
Lawan bicaranya bukan prajurit. Tapi tokoh agama desa. Orang-orang yang suaranya didengar warga saat khutbah, saat ada hajatan, saat ada isu.
Ini bukan rapat. Ini Komunikasi Sosial, Komsos. Cara lama TNI menjaga wilayah: dari masjid, dari mimbar, dari obrolan setelah shalat.
Garis Depan Bukan Senapan, Tapi Silaturahmi
Bagi Sertu Jufri, tugas teritorial bukan cuma patroli dan apel. Garis depannya ada di sini: di serambi masjid, di rumah tokoh agama, di warung kopi.
“Melalui silaturahmi seperti ini diharapkan hubungan antara TNI dan masyarakat semakin erat, serta dapat bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah binaan,” ujarnya usai ngobrol.
Bahodopi hari ini panas karena investasi. Pabrik datang, pendatang datang, kepentingan bertabrakan. Di titik inilah peran tokoh agama penting. Mereka penyejuk. Mereka penengah.
Kalau ada desas-desus, kalau ada gesekan kecil, informasi itu lebih dulu mampir ke mereka. Dari sanalah Babinsa bisa bergerak cepat, sebelum api jadi besar.
“Kami Apresiasi TNI Hadir”
Tokoh agama Desa Lele menyambut baik. Bagi mereka, kehadiran seragam loreng di masjid bukan untuk mengawasi. Tapi untuk menguatkan.
Mereka mengapresiasi kepedulian TNI yang tidak menunggu diundang. Yang mau duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Harapannya cuma satu: sinergi ini jangan putus. Jaga terus. Karena Bahodopi butuh harmoni, bukan gaduh.
Di tengah gempuran proyek dan perubahan, satu hal yang tidak boleh runtuh adalah kepercayaan.
Dan kepercayaan itu, sering kali, lahir dari satu hal sederhana: mau duduk bareng usai Ashar.
Karena menjaga negara, kadang dimulai dari menjaga satu desa. Dan menjaga satu desa, dimulai dari menjaga satu masjid. (*)













